Meningkatnya Bencana Hidrometeorologi di Indonesia: Faktor dan Dampak
Peningkatan Frekuensi Bencana Hidrometeorologi
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang terjadinya hujan ekstrem di kondisi iklim zaman sekarang meningkat sekitar 2,4 kali lebih sering dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah berdampak signifikan pada frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa jumlah kejadian bencana di Indonesia terus meningkat dalam 5 tahun terakhir. Sejak 1 Januari 2022 hingga pertengahan Maret 2022, tercatat 954 kejadian bencana, yang didominasi oleh banjir (379 kejadian) dan cuaca ekstrem (375 kejadian). Tahun 2021 mencatat total 5.402 kejadian bencana, sementara tahun 2020 tercatat 4.650 kejadian.
Penyebab Utama Bencana Hidrometeorologi

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr. Abdul Muhari, menjelaskan bahwa meningkatnya tren bencana hidrometeorologi dipicu oleh perubahan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Faktor utama penyebabnya adalah berkurangnya tutupan lahan hutan dan hilangnya vegetasi.
Intensitas banjir, cuaca ekstrem, angin puting beliung, hujan es, dan longsor berkisar antara 90-99% karena hutan-hutan yang biasanya berada di sekitar sungai kini tidak ada lagi. Akibatnya, sungai menjadi dangkal dan daerah resapan air berkurang.
Wilayah Hot Spot Bencana
Di Indonesia, terdapat 8 provinsi yang menjadi hot spot bencana hidrometeorologi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Tiga provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, adalah daerah berpenduduk terpadat.
“Bila tiga provinsi tersebut bisa mengurangi 50% bencana hidrometeorologinya, itu setara dengan mengurangi 30% kejadian bencana hidrometeorologi di Indonesia. Sedangkan bila lima provinsi lainnya bisa mengurangi 50% kejadian bencana hidrometeorologi, sama dengan mengurangi 20% bencana di Indonesia,” ujar Abdul Muhari.
Pengaruh Perubahan Iklim

Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa peningkatan kejadian ekstrem dan bencana hidrometeorologi di dunia pada dekade terakhir dapat diatribusikan sebagai pengaruh perubahan iklim akibat pemanasan global.
Lebih dari dua pertiga dari data cuaca global menunjukkan sinyal bahwa peningkatan kejadian ekstrem berkaitan dengan peningkatan suhu udara permukaan. Penelitian menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem pada waktu sore, malam atau pagi hari lebih sensitif terhadap perubahan suhu atmosfer lokal.
Rekor Suhu Terpanas di Indonesia

Rekor tahun terpanas di Indonesia terjadi pada 2016 dengan nilai anomali sebesar 0,8 derajat Celsius. Suhu udara rata-rata tahunan 2021 adalah 27 derajat Celsius dan menempati urutan ke-8 tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,4 derajat Celsius. Tahun 2020 dan 2019 menempati urutan kedua dan ketiga tahun terpanas dengan nilai anomali masing-masing sebesar 0,7 derajat Celsius dan 0,6 derajat Celsius.
Saat ini, peta proyeksi perubahan iklim BMKG menggunakan dua skenario yakni RCP 4.5 dan RCP 8.5. Hasilnya menunjukkan sesuai dengan proyeksi IPCC. Kecenderungan suhu udara diproyeksikan meningkat 0,5 derajat Celsius pada 10 tahun mendatang.
Potensi Bencana di Seluruh Wilayah

Bencana hidrometeorologi berpotensi terjadi hampir di seluruh wilayah karena Indonesia secara geografis membentang dari dataran rendah hingga dataran tinggi. “Tidak ada satu pun daerah yang terbebas dari bencana banjir, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor dan kejadian cuaca ekstrem lainnya seperti angin kencang, puting beliung,” ujar Ardhasena.
Dampak Ekonomi dan Solusi Jangka Panjang

BMKG melihat potensi bencana dari perubahan iklim sangat merugikan. Secara ekonomi, peningkatan bencana hidrometeorologi telah merugikan Indonesia hingga sekitar Rp544 triliun, menurut data BNPB. Untuk meminimalisir dampaknya, saat ini BMKG memiliki sistem pengolahan data dan proyeksi iklim untuk memproyeksikan iklim di Indonesia hingga 100 tahun ke depan.
Abdul Muhari menyampaikan bahwa solusi jangka panjang bisa dilakukan dengan cara memperbaiki tata guna lahan, mencegah berkurangnya tutupan hutan termasuk mencegah aktivitas pembukaan hutan baik secara legal maupun ilegal.
Deforestasi dan Dampaknya

Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Walhi, Uli Artha Siagian, menjelaskan bahwa luas kawasan hutan daratan Indonesia adalah 120 ribu hektare atau setara dengan 63% luas daratan Indonesia. Dari luasan total kawasan tersebut hutan alam yang tersisa kurang dari 45 juta hektare, lebih rendah dari total luas hutan konservasi dan hutan lindung yang luas totalnya sekitar 52 juta hektare.
Deforestasi yang terjadi secara legal maupun ilegal adalah penyebab berkurangnya luasan hutan alam tersisa. Hilangnya tutupan hutan Indonesia paling banyak disebabkan oleh keluarnya perizinan di sektor kehutanan, pertambangan dan perkebunan.
Kesimpulan
Perubahan iklim dan deforestasi telah meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di Indonesia. Upaya mitigasi dan adaptasi diperlukan untuk mengurangi dampak bencana. Dengan pemulihan hutan dan pengelolaan lahan yang baik, Indonesia dapat mengurangi risiko bencana dan memastikan keberlanjutan lingkungan.