OECD Proyeksi Ekonomi Global: Pertumbuhan 4,9% dan Inflasi 2,7% dengan Kebijakan Moneter yang Mengubah Tren
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) kembali memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam laporan terbaru mereka, Economic Outlook – Interim Report September 2025, OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,9% pada tahun 2025 dan 2026. Angka ini lebih tinggi 0,2 poin persentase dibandingkan proyeksi Juni 2025, dan meningkat 0,1 poin persentase untuk tahun 2026. Selain itu, inflasi di Indonesia diperkirakan akan naik dari 1,9% pada 2025 menjadi 2,7% pada 2026. Hal ini didorong oleh depresiasi nilai tukar rupiah.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan sebesar 4,9% pada tahun 2025 dan 2026 mencerminkan optimisme OECD terhadap stabilitas dan dinamika perekonomian Indonesia. Penyebab utama peningkatan proyeksi ini adalah pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI), investasi publik yang kuat, serta konsumsi domestik yang stabil. OECD menyatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar memberi ruang bagi aktivitas ekonomi, sementara investasi publik yang besar berkontribusi pada pembangunan infrastruktur.
[IMAGE: Indonesian economic growth 4.9% 2025 2026 OECD projection]
Kebijakan Moneter yang Menopang Perekonomian
Kebijakan moneter yang diterapkan oleh BI, yaitu suku bunga acuan yang tetap rendah, telah menjadi faktor pendukung utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. BI mempertahankan suku bunga acuan pada level terendah sepanjang sejarah, yaitu 3,5%. Namun, ketidaksinkronan kebijakan moneter antara Indonesia dan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dapat menciptakan risiko arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan dalam negeri.
Inflasi yang Meningkat

Meskipun pertumbuhan ekonomi positif, OECD juga memperingatkan adanya tekanan inflasi. Inflasi di Indonesia diperkirakan akan meningkat dari 1,9% pada 2025 menjadi 2,7% pada 2026. Penyebabnya adalah depresiasi nilai tukar rupiah yang terus-menerus, yang memengaruhi harga-harga domestik. OECD mengingatkan bahwa inflasi yang tinggi dapat mengganggu stabilitas ekonomi jika tidak dikelola dengan baik.
Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski proyeksi ekonomi Indonesia positif, OECD tetap mengingatkan beberapa risiko yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah perlambatan perdagangan global yang bisa mengurangi kinerja ekspor Indonesia. Selain itu, kenaikan tarif impor Amerika Serikat terhadap berbagai negara juga bisa berdampak pada rantai pasok dan aktivitas perdagangan.
Kekuatan Ekonomi Indonesia
Di tengah tantangan global, Indonesia memiliki beberapa kekuatan yang mendorong pertumbuhannya. Pertama, peningkatan harga komoditas global yang mendorong prospek ekspor. Kedua, kredibilitas Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi. Ketiga, investasi publik yang kuat sebagai motor penggerak pembangunan infrastruktur.
Rekomendasi OECD untuk Pemerintah

OECD merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk terus memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal. Selain itu, pemerintah perlu memastikan stabilitas ekonomi jangka panjang melalui kebijakan yang transparan dan dapat diprediksi. OECD juga menyarankan agar negara-negara bekerja sama dalam sistem perdagangan global untuk mengurangi risiko yang muncul akibat perubahan kebijakan internasional.
Kesimpulan
![]()
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,9% pada 2025 dan 2026 oleh OECD menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih relatif stabil dan mampu bertahan di tengah tantangan global. Namun, pemerintah dan otoritas moneter harus tetap waspada terhadap risiko inflasi dan perubahan kebijakan internasional. Dengan kebijakan moneter yang tepat dan investasi publik yang kuat, Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.